Pagi Selalu Menawarkan Cerita Yang Baru
Minggu, 29 Mei 2016.
Untuk pertama kalinya mendaki yang sesungguhnya, yang sebelumnya hanya mendaki bukit dan gunung yang mungkin tak begitu termahsyur.
Untuk pertama kalinya mendaki yang sesungguhnya, yang sebelumnya hanya mendaki bukit dan gunung yang mungkin tak begitu termahsyur.
Kami melakukan perjalanan pada hari Sabtu, 28 Mei 2016. Kami mendaki gunung Tanggamus.
Hari itu perjalanan kami tempuh dengan menggunakan motor dari Bandar Lampung menuju Tanggamus. Kami berangkat dari kosan sasa, saya dengan gusti, sasa dengan ellen, revi dengan heru dan satu orang sendiri yaitu Ari (anak kelas F).
Hari itu perjalanan kami tempuh dengan menggunakan motor dari Bandar Lampung menuju Tanggamus. Kami berangkat dari kosan sasa, saya dengan gusti, sasa dengan ellen, revi dengan heru dan satu orang sendiri yaitu Ari (anak kelas F).
Perjalanan kira kira memakan waktu 2 jam, namun karena banyaknya pendaki yang akan mendaki kami terpaksa harus menunggu agar dapat mendaki bersama. Sebelum menuju tempat tujuan kami mampir dirumah niko, disana kami istirhat sejenak, sambil menunggu zaka dan marza, tak berselang lama zaka dan marza datang, ketika itu niko dan gusti yang hendak membeli makanan karena kami belum makan datang, saya dan beberapa teman yang lain niat ingin membantu memasak, namun diusir entah mengapa si zaka dan marza yang baru datang lansung masak, jujur ini aneh rasa gak enak menyeruat hahaha. Lalu setelah makan kami bergegas berangkat, elen dan sasa yang tadi berboncengan bertukar posisi dengan zaka dan marza, jadi marza dengan sasa, eka dan niko, ari dan elen, revi dan heru, zaka dan saya serta gusti yang sendiri karena ingin menjemput temannya.
Rasanya perjalanan ketika itu seperti ingin mudik saja, kami konvoi dengan style yang seperti orang hendak mendaki tapi juga seperti ingin pulang kampung haha.
Waktu itu menujukan jam 5 lewat kami sampai di Tanggamus dan langsung menuju posko pendakian, kami yang belum solat asar, sejenak mampir ke mushola di dekat pos pendakian.
motor kami parkirkan di posko rumah warga tersebut. Lalu sekitar jam 6 kurang kami melakukan pendakian, pendakian awal tidak begitu sulit, namun ketika hari mulai gelap barulah tantangan dimulai, dan perjalanan mulai terasa melelahkan. Sebenarnya pendakian ini rasanya sama saja ketika saya mendaki bukit atau gunung di sekitar rumah, namun ada rasa yang sedikit berbeda yaitu, udara dan suasana gunung yang masih sangat terasa jauh sekali dari hingar bingar, serta sejuknya daerah pegunungan.
Dalam pendakian saya merasa cemas, hal yang paling saya cemaskan adalah teman saya revi, eka dan sasa yang terlihat lelah ketika kita mendaki. Namun yang paling saya khawatikan adalah revi mukanya begitu pucat.
Waktu itu menujukan jam 5 lewat kami sampai di Tanggamus dan langsung menuju posko pendakian, kami yang belum solat asar, sejenak mampir ke mushola di dekat pos pendakian.
motor kami parkirkan di posko rumah warga tersebut. Lalu sekitar jam 6 kurang kami melakukan pendakian, pendakian awal tidak begitu sulit, namun ketika hari mulai gelap barulah tantangan dimulai, dan perjalanan mulai terasa melelahkan. Sebenarnya pendakian ini rasanya sama saja ketika saya mendaki bukit atau gunung di sekitar rumah, namun ada rasa yang sedikit berbeda yaitu, udara dan suasana gunung yang masih sangat terasa jauh sekali dari hingar bingar, serta sejuknya daerah pegunungan.
Dalam pendakian saya merasa cemas, hal yang paling saya cemaskan adalah teman saya revi, eka dan sasa yang terlihat lelah ketika kita mendaki. Namun yang paling saya khawatikan adalah revi mukanya begitu pucat.
Sekitar kurang lebih jam 8 kami sampai di camp, saya tidak begitu paham itu camp berapa. yang jelas menurut teman saya Gusti masih ada satu camp lagi untuk mencapai puncak, karena banyak yang terlalu lelah untuk melanjutkan diputuskan kami hanya berkemah di camp pertama kami tersebut.
Akhirnya kami beristirahat, selain itu kamipun melakukan hal hal yang menyenangkan. Seperti halnya Heru yang sepanjang malam bernyanyi lagulagu galau, Revi, saya, Eka, Sasa dan Ellen yang hanya asik berfoto, gusti, niko, zaka dan marza yang entah apa yang merka lakukan, yang jelas malam itu begitu berkesan. Eka yang begitu merasa kedinginan sampai membuat tulangnya ngilu membuat saya khawatir, terlebih lagi dia pernah bilang kalau dia alergi dengan dingin.
Akhirnya kami beristirahat, selain itu kamipun melakukan hal hal yang menyenangkan. Seperti halnya Heru yang sepanjang malam bernyanyi lagulagu galau, Revi, saya, Eka, Sasa dan Ellen yang hanya asik berfoto, gusti, niko, zaka dan marza yang entah apa yang merka lakukan, yang jelas malam itu begitu berkesan. Eka yang begitu merasa kedinginan sampai membuat tulangnya ngilu membuat saya khawatir, terlebih lagi dia pernah bilang kalau dia alergi dengan dingin.
Semakin malam semakin dingin, lalu hujan pun turun, kami yang tak membawa tenda seorangpun, hanya kawan gusti yang membawa satu tenda, tanpa rasa bersalah kami masuk kedalam tenda. kemudian tak berselang lama tenda terisi penuh dan sesak, entah lah jujur saja tak nyaman rasanya, berhubung ini keadaan darurat mau tak mau kamii seperti anak ayam yang berkerumun pada induknya untuk berlindung.
Rasanya malam itu tak dapat tidur sama sekali, suara binsing gitar dan lantunan suara dan nyanyian bersautan ditambah tempat tidur yang dibawah nya banyak dengan batu membuat tubuh makin terasa tidak nyaman, lagi lagi heru yang tiba tiba tidur dan suara ngorok yang begitu besar, duhhh begitu berisik.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 03.45 kurang lebih, akhirnya saya pun tertidur meski hanya 2 jam saja, tapi begitu nyenyak rasanya. Subuh segera datang kami melaksankan solat. Setelahnya kami menyaksikan kebesaran Tuhan munculnya matahari yang bewarna jingga, ditambah awan yang biru, dan sedikit warna oranye yang begitu cantik. Walaupun sunrise pagi itu tidak begitu mencuat penuh, namun itu sudah cukup untuk pengalaman pertama mendaki gunung.
Rasanya malam itu tak dapat tidur sama sekali, suara binsing gitar dan lantunan suara dan nyanyian bersautan ditambah tempat tidur yang dibawah nya banyak dengan batu membuat tubuh makin terasa tidak nyaman, lagi lagi heru yang tiba tiba tidur dan suara ngorok yang begitu besar, duhhh begitu berisik.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 03.45 kurang lebih, akhirnya saya pun tertidur meski hanya 2 jam saja, tapi begitu nyenyak rasanya. Subuh segera datang kami melaksankan solat. Setelahnya kami menyaksikan kebesaran Tuhan munculnya matahari yang bewarna jingga, ditambah awan yang biru, dan sedikit warna oranye yang begitu cantik. Walaupun sunrise pagi itu tidak begitu mencuat penuh, namun itu sudah cukup untuk pengalaman pertama mendaki gunung.
Entah mengapa mendaki gunung ingin ku lalukan lagi dan lagi.
Komentar
Posting Komentar